(Gambar) Al-Quran Kuno Di Pulau Alor, Jejak Penyebaran Islam Di NTT

Join Telegram Taman Ilmu Di Bawah

Telegram

Al-Quran kuno berusia ratusan tahun yang berada di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur NTT, masih tersimpan di sebuah rumah milik keturunan Iang Gogo, penyebar agama Islam asal Ternate Maluku Utara.

Kitab suci itu disebutkan terbuat dari kulit kayu tampak utuh dan dapat dibaca, hanya beberapa bagian yang mulai koyak termakan usia. Alquran itu dibawa ke Alor sekitar tahun 1518 dan selama ini disimpan di dalam kotak kaca, untuk menghindari sentuhan para pengunjung yang datang melihat salah satu benda sejarah di Alor.

Nurdin Gogo, yang merupakan keturunan ke-14 dari Iang Gogo, mengatakan larangan untuk menyentuh Alquran dilakukan untuk menjaga kitab suci itu agar tetap utuh.

Para pengunjung maunya menyentuh jadi khawatir rusak, jadi kami batasi saja hanya untuk orang tertentu yang punya kepentingan khusus untuk meneliti misalnya, dan itu pun harus berwudhu dulu,” kata dia.

Dia mengaku tidak ada perawatan khusus yang diberikan untuk merawat Alquran tersebut. “Saya tidak berani memakai bahan pengawet atau sejenisnya, karena khawatir malah justru akan merusak Alquran tersebut,” jelas Nurdin kepada wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari.

Alquran yang disebut hanya dapat diwariskan kepada anak laki-laki pertama dari garis keturunan Iang Gogo, ini berada di Alor Besar, sebuah desa pesisir yang berada sekitar 30km dari Kota Kalabahi. Tetapi hanya sedikit yang mengetahui tentang sejarah Alquran tua ini.

Selamat dalam kebakaran

Secara fisik Alquran yang disebut terbuat dari kulit kayu ini masih utuh, berisi 30 juz atau 114 surat yang ditulis menggunakan tinta berwarna hitam dan merah.

Kotak kayu tua untuk menyimpan Alquran ini juga masih utuh. “Ada beberapa yang datang untuk melihat, yang meneliti sudah ada tapi saya belum mengetahui seperti apa hasilnya,” jelas Nurdin. Dia mengatakan sejumlah kalangan menyebut Alquran ini berasal dari Timur Tengah, dan ditulis pada zaman Nabi Muhamad SAW, tetapi dia tidak mengetahui kebenarannya.

“Itu mereka yang mengatakan itu, tetapi saya hanya menceritakan apa yang saya tahu dari cerita kakek moyang saya jika Alquran ini berasal dari Ternate,” jelas Nurdin. “Bahannya itu dari kulit kayu, nah kayu dan tinta jenis apa itu juga saya tidak tahu.”

Dia mengatakan Alquran ini merupakan salah satu benda peninggalan Iang Gogo yang selamat dalam keb4karan pada 1982 lalu. “Semua benda peninggalan leluhur h4ngus ketika rumah ini terb4kar, tetapi hanya Alquran yang berhasil diselamatkan, tidak terb4kar api! ketika itu,” ungkap Nurdin.

Mirip dengan Alquran di Mesir

Nurdin mengatakan Alquran tersebut dibawa oleh kakek moyangnya Iang Gogo bersama dengan empat saudaranya (Ilyas, Djou, Boi dan Kimales) dengan menggunakan sebuah perahu layar yang dinamakan Tuma’ninah, bahasa arab yang berarti artinya “berhenti”.

Lima bersaudara itu merantau untuk menyebarkan ajaran Islam ke wilayah Timur Indonesia di masa Kesultanan Babullah V. “Gambar perahu masih ada di salah satu halaman Alquran, ini yang namanya Tuma’ninah,” jelas Nurdin sambil menunjuk gambar kecil yang ada di bagian belakang Alquran.

Dosen Pasca Sarjana UIN Syarid Hidayatullah Jakarta Abdurrahim Yapono yang berada di Alor untuk berdakwah selama Ramadan ini, mengatakan Alquran kuno yang berada di Alor ini mirip dengan kibat suci umat Islam yang tersimpan di Mesir.

“Dilihat dari bahannya itu terbuat dari papirus, dan bentuk kaligrafi dan warna tintanya juga sama dengan yang digunakan di Mesir,” kata Abdurrahim. Tetapi menurut dia, perlu ada penelitian yang akurat untuk mengetahui asal dan usia Alquran tersebut.

“Alquran itu kan warisan budaya, dan seharusnya ada perawatan yang semestinya oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, tetapi keluarga tampaknya masih percaya itu tak boleh dibawa keluar dari rumah mereka,” jelas Abdurrahim.

Tetapi, Kepala Kantor wilayah Kementerian Agama Kabupaten Alor, Muhamad Marhaban mengatakan belum ada rencana dari Kementerian Agama untuk menempatkan Alquran tersebut di museum ataupun di tempat lain.

“Belum ada dan masih disimpan oleh keluarga, tetapi pemerintah setempat sudah menetapkan lokasi rumah itu sebagai situs bersejarah,” kata Marhaban.

“Tidak bangga”

Kembali ke situs bersejarah Alquran tua di Alor Besar, Nurdin kembali meletakkan Alquran tersebut di meja kaca yang ada di sebuah kamar khusus menyimpan kitab suci itu. Di samping meja terdapat sajadah, tasbih, dan piring gerabah yang berisi semacam dupa.

Dia mengatakan dirinya percaya hanya keturunan Iang Gogo yang dapat menjaga Alquran tersebut. “Iya memang tak boleh keluar dari rumah ini, pernah juga disimpan di masjid tetapi itu hanya sementara waktu, dan kembali lagi ke rumah ini, begitu pesan yang saya dapat dari leluhur saya,” jelas Nurdin.

Meski begitu, Nurdin mengatakan Alquran ini bukan cuma milik pribadi. “Tidak ada rasa bangga sama sekali, saya hanya bersyukur keluarga bisa mewariskan Alquran ini, tetapi ini bukan hanya milik pribadi saya, tetapi milik umat Islam.”(Juft/BBC)

Sumber:konfrontasi

PERHATIAN: Pihak AMBIL TAHU DOT COM tidak akan bertanggungjawab langsung ke atas komen-komen yang diberikan oleh pembaca kami. Sila pastikan anda berfikir panjang terlebih dahulu sebelum
menulis komen anda disini. Pihak AMBIL TAHU DOT COM juga tidak mampu untuk memantau kesemua komen yang ditulis disini. Segala komen adalah hak dan tanggungjawab anda sendiri.

Apa Kata Anda? Dah Baca, Jangan Lupa Komen Dan Share Ya. Terima Kasih.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*